Rabu, 02 Maret 2011

Sebuah Cerita Lama

Sebuah cerita lama..pendakian perdana ^_^


PENDAKIAN UMUM GUNUNG GEDE 25-27 JULI 2008 by STAPALA
Suatu sore di kosan tercinta,Pondok Adem Ayem J, sohib seperjuanganku yang juga teman kosku, Grace, datang membawa kabar bahwa Stapala (kelompok pecinta alam STAN) akan mengadakan pendakian umum ke gunung Gede, 25-27 Juli 2008. Wah, pikirku. Seperti dream come true, dari dulu saya memang ingiiiiinnn sekali merasakan petualangan yang sesungguhnya, the real adventure..hehe
Setelah berdiskusi sebentar, aku dan Grace memutuskan untuk ikut serta dalam pendakian umum kali ini. Kami pun mulai mempersiapkan fisik, dana, dan informasi yang cukup, dan segala sesuatunya untuk pendakian perdana kami nanti.
Bismillahirrahmaanirrahim..
Sore setelah ashar, Jumat 25 Juli 2008, kami para peserta pendakian berkumpul di Posko STapala di Gedung G Kampus Ali Wardhana. Sore itu kami mendengarkan pengarahan dari pantia, pembagian kelompok, karena pesertanya sekitar 70 orang, maka kami dibagi dalam 7 kelompok. Kelompok satu beranggotakan saya, Grace, Bonbon,Rawon, Tarjo,Mardi, Baim, Iqbal, Pentol, dan Bramus.
Usai maghrib kami berangkat menuju starting point kami, kaki gunung putri, letaknya di kabupaten bogor. Kami berangkat dengan kendaraan truk polisi. Perjalanan menuju kaki gunung putri memakan waktu kurang lebih 2 jam dari Bintaro, Jakarta Selatan.
Rute pendakian kami kali ini dimulai dari Gunung Putri, menuju Padang Surya Kencana, dan turun lewat Cibodas. Untuk pendakian kali ini memang sengaja dipilih rute Gunung Putri karena jalur trecknya yang landai. Sedikit jadi lebih lama memang perjalanan nanti tapi akan imbang nantinya dengan jalur pulang Cibodas yang terkenal curam dan terjal.
Memasuki kawasan Taman Nasional Gede-Pangrango, suhu mulai terasa dingin, gelap, dan sepi. Setibanya kami di lokasi, kami wajib melaporkan diri di posko pemantauan Taman Nasional Gede-Pangrango. Perjalanan menuju posko sedikit mendaki, ini sekalian klimatisasi, beradaptasi dengan suhu dan geografis pegunungan. Setelah berkoordinasi dengan petugas di posko kami melanjutkan pendakian singkat ke camp arena untuk beristirahat dan bersiap memulai pendakian esok pagi pukul 7.











Pertama-tama… bangun tenda untuk istirahat malam ini…


Aftert that… suasana makan malam di alam terbuka…bbrrrr…dingiiiinnnn,dan…lapaaarrrr…sikat!! Hwkwkwk..
Ada satu view indah dari camp arena ini yang tidak tertangkap camera Canonx Grace malam itu, hehe..yaitu pemandangan perkotaan di bawah sana. Subhanallah, mantap J Kelap kelip lampu dari rumah penduduk terlihat begitu ramai dan jelas dari camp arena ini. Bintang dan bulan pun terlihat lebih dekat, indah sekali. Subhanallah J        
Bismillahirrahmaanirrahim…
Sabtu pagi, 26 Juli 2008, usai shalat subuh berjamaah…bbrrrrr…dinginnyaaaa…sumpah eee, ini dingin lebih dingin daripada di kota Ruteng..menggigil cuyyy..
Sambil menunggu sarapan disiapkan, kami bergegas packing, merapikan tenda dan menyiapkan segala sesuatunya.

  Putuw2 dulu ma Ge




 Persawahan di kaki gunung putri. Ini view malam yang tadi saya ceritakan,kalo dipagi hari tampakx seperti ini. Gunung di sana namax Gunung Kencana,tempat diklat para anggota Stapala, masih di kabupaten Bogor juga.
Daaannnn…jeng jeng jeng…inilah sarapan terpanjang di dunia, hwkwkwkwk…
Hasil jepretan saya ini kabarnya dipajang paling gede di Plasma alias Plasa Mahasiswa..hehe Sayang, saya tidak ada di gambar ini :p
Detik-detik sebelum memulai pendakian.
Tepat jam 7 kami berangkat. Kami kelompok satu sebagai kelompok pembuka. Sepanjang perjalanan kami melewati lembah, sungai-sungai kecil yang mengalir di antara perkebunan warga.
O iya, sedikit informasi, Gunung Gede merupakan Gunung Vulkanik aktif dengan ketinggian 2958 mdpl (meter di atas permukaan laut). Dan gunung ini cukup terkenal sebagai gunung dg pengunjung terbanyak sepanjang tahun. Banyak pengunjung, banyak sampahnya juga lho ==”
Track pendakian sebenarnya cukup landai, tapi ini juga cukup membuat saya ngos2an menuju shelter pertama d ketinggian +/- 1500 mdpl.
 Sesekali kami beristirahat untuk memulihkan tenaga, ada mapala lain yang juga sedang mendaki, tapi mereka punya rute/jalur tersendiri.
Suasana istirahat…wah wah..ni kebanyakan istirahatnya, kapan nyampe puncak..hahahaha 
Dan inilah track gunung putrid yang bikin saya ngos-ngosan. Sungguh ya, saya ini punya semangat kuda tapi tenaganya kura-kura, hwkwkwkwk..
Sampai-sampai ransel saya akhirnya dipikul bergantian sama Bramus dan Rawon, thx berat temans..hehe.. Sementara kedua teman saya, Grace dan Mardi malah semakin semangat, terlihat dari wajah mereka yang rajin nampang ini, hehehe.. Dan saya lebih memilih berada dibalik kamera.
Tujuan pertama kami adalah padang Surya Kencana, padang yang luas, indah dan punya mitos tersendiri. Kami akan bermalam di Surken untuk mengejar sunrise esok pagi di puncak Gede.
Saya punya pengalaman, yaa mungkin bisa dibilang pengalaman spiritual,hehe.. ketika jalur semakin ngetrack menuju Surken. Entahlah ini penyebabnya apa saya sungguh heran. Ketika saya sudah benar2 lelah dan tidak kuat lagi untuk mendaki, saya merasakan ada yang mendorong ransel saya dari bawah sehingga langkah saya terasa lebih ringan. Ketika menoleh ke belakang, saya piker salah seorang teman saya yang mendorong, ternyata tidak ada siapapun di belakang saya. Teman-teman tersebar, Grace dan Mardi sudah mendahului saya.Sementara Bonbon dll masi jauh di belakang dan tidak terlihat dari tempat saya berdiri. Saya Cuma bias bilang Alhamdulillah langkah saya jadi ringan. Setelah kurang lebih 6 jam mendaki, akhirnya sampailah kami di Padang Surya Kencana…kira-kira pukul  13.00 waktu setempat.
Padang yang luas membentang antara Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Juga menjadi lokasi syuting film Gie,salah satu film favorit saya, hehe.. Kabutnya tuebbbaalll…bbbrrr…dingiiiiinnnn..suasananya benar2..Subhanallah..seperti ada di dunia lain, klo kata Grace ini mungkin seperti di Surga,dan kabutnya ini spt kabut kulkas, kami serasa berada dalam kulkas alam raksasa, hehe J Indaaaahhh sekali, padang sabana ini dipenuhi dengan tumbuhan Edelweis,bunga abadi, bunga yang hanya tumbuh di ketinggian tertentu. Tentu saja kami dilarang memetik atau merusak apa pun di gunung ini.
Banyak kelompok pendaki lain yang juga sedang beristirahat di padang Surken.
*Take nothing but picture, leave nothing but footprint, and kill nothing but time*
Kami membangun tenda peristirahatan di dekat hutan. Alasan kami tidak membangun tenda di tengan padang Surken adalah untuk menghindari hembusan angin yang lebih kencang.
Di tengah padang Surken ini terdapat mata air yang segar dan bisa langsung diminum tanpa harus dimasak terlebih dahulu. Mitosnya di Padang Surken ini adalah kerajaan Pangeran Surya Kencana. Dan mata air ini merupakan singgasana kerajaannya dahulu. Ceritanya Pangeran Surya Kencana ini senang berkuda, dan menurut mitos penduduk setempat…para pendaki sering mendengar jika di malam hari ada suara pasukan berkuda sedang mengelilingi padang Surken. Katanya sih itu suara Pangeran dan pasukan berkudanya. Tapi, saya sendiri tidak begitu mengetahuinya karena saya dan teman-teman tidak mendengar suara itu di malam kami beristirahat. Yang kami tau, di padang ini, kami bias melihat hamparan langit luas berhiaskan bintang-bintang yang uuuuughhh…sungguh indahnya tak bisa saya tuliskan di sini. Subhanallah J
Suhu saat itu turun hingga 3 derajat celcius. Dinginnya minta ampun. Gelapnya juga benar2 mengerikan. Pendakian kami adalah pendakian tanpa asap dan api. Hanya kompor spiritus yang menyala untuk memasak seadanya malam itu. Menu andalan kami, ikan kaleng, mie, dan millo.
Malam itu Grace sedih dan ketakutan. Malam yang gelap dan dingin sempat membuatnya menyerah. Katanya dia ingat Bos Ceweknya (mama, red). Kami semua terus menyemangatinya, dan syukurlah Grace tidak berlarut-larut dalam ketakutannya.
Setelah Grace mereda, sekarang gantian, saya yang mulai gelisah tidurnya karena kedinginan. Dan Graceku saying, dia selalu menenangkan saya setiap kali terjaga, hehe..thanx Grace, I miss u so much :*.. Malam itu saya dan Grace kompak berikrar untuk tobat mendaki, ingin cepat turun. Hiks hiks T_T
Minggu, 27 Juli 2008.. Jam setengah 4 pagi kami bangun dan bergegas packing dan melanjutkan misi kami, sunrise di Puncak Gede.Kami bangun terlambat setengah jam dari jadwal, akibatnya harus buru2 packing. Perkiraan waktu mencapai puncak sekitar 45 menit. Sunrise di Puncak diperkirakan pukul 4.45 waktu setempat. Btw, 45 menit itu waktu normal, klo bwt kami yang amatiran ini mungkin bias meleset sekitar 10 menit.
Tepat jam 4 kami berangkat menuju puncak. Jaraknya sekitar 500 meter lg dr Surken. Jalur semakin ke puncak semakin terjal, sehingga terkadang kami harus berpegangan kuat di bebatuan bahkan memeluk tanah untuk menjaga keseimbangan. Setiap langkah pun kami jaga, untuk menghindari batuan runtuh akibat pijakan karena akan sangat berbahaya bagi rekan pendaki lain di bawah kita. Vegetasi menuju puncak juga semakin pendek. Berbeda saat masih di bawah kemarin, pohon-pohonnya tinggi menjulang dan akar-akarnya besar menonjol.
Selama menuju puncak saya sempat merasakan gejala yang disebut Mountain Sickness. Yaitu gejala yang timbul akibat kadar oksigen yang menipis di pegunungan karena tekanan udara yang semakin tinggi. Gejalanya pusing, mual seperti masuk angin, susah menghirup oksigen, dan sesekali bersendawa. Banyak minum air malah memperparah keadaan. Istirahat sejenak dan mengatur napas rasanya lebih baik.
Setelah kurang lebih 50 menit  perjalanan sampailah kami di Puncak Gede, Alhamdulillah J
Bau belerang dari dalam kawah cukup menyengat.. Subhanallah…indahnya pemandangan dari atas sini, di ketinggian 2958 mdpl. Kawah vulkanik yang menganga, hamparan langit biru yang luas, Subhanallah..indaaaah sekali, sekaligus menakutkan. Iya, saya benar-benar takut, sungguh Allah Maha Besar. Saya sadar saya hanyalah makhluk biasa yang tak berdaya apa pun. Di gunung ini saja, kami bagaikan titik kecil, apa lagi dibandingkan dengan dunia yang luas dan besar ini. Astaghfirullah, kesombongan kami benar2 ditampar. Tak pantas sekali rasanya manusia itu sombong.
Setelah shalat subuh berjamaah, saatnya beraksi di Puncak Gede !!!!
Lihatlah yang di belakang sana, itu adalah Puncak Pangrango, tetangganya Gunung Gede, tempat Soe Hok Gie menciptakan puisi indahnya tentang Lembah Mandalawangi.
Sunrise di Puncak Gede..cuaca pagi itu sedikit mendung tp syukurlah kami bisa menikmati sunrise di Puncak Gede…

Grace pun tak ketinggalan, berpose dg latar sunrise di Puncak Gede adalah salah satu impiannya di pendakian perdana kami J
Inilah kawah vulkanik Gunung Gede. Gunung Gede termasuk gunung berapi yang masih aktif. Lihat saja kepulan gas yang keluar dari dalam kawahnya.
Ko tengoklah sohibku yang satu ini, Grace…dengan kupluk yang setia menutupi kepalanya..nampang mlulu dia nih, eksis kali di tiap jepretan kamera,hahaha…makjank kali ko Ge !! hwkwkwkwk... dan pedenya kami  berpose dengan syal pinjaman…hwkwkwkwk…special thx to NiChYu..syalnya mghangatkan muka kami yang terasa mulai membeku, keren juga bwt aksesoris di puncak gunung..hehehe
Coba perhatikan beberapa foto saya di puncak mulai dari sunrise sampai dengan foto dua makhluk narsis di atas..di belakang kami tampak garis melintang seperti membelah pemandangan di belakang menjadi dua bagian atas dan bawah. Menurut info dari rekan saya Bonbon, fenomena ini disebut garis horizon, yaitu garis yang membatasi langit dan bumi. Garis ini hanya dapat dilihat pada ketinggian tertentu seperti di Puncak Gede ini. Subhanallah, Allahu Akbar!!
Inilah rekan-rekan pendakian saya, Kelompok Satu J Mulai dari yang paling kiri, Iqbal, Mardi, Bonbon, Grace, Saya sendiri Umay, dan terakhir Baim.
Sambil bersunrise ria, masih di Puncak Gede, kami sarapan nasi kuning dengan beberapa potong gorengan..hehehe.. Pasti heran ya, nasi kuning dan gorengannya dapat dari mana?? Nih tak kasi tau, Gunung Gede itu gunung paling ramai dan sering dikunjungi pendaki. Warga setempat memanfaatkan keadaan ini untuk mengais rejeki. Mereka ikut naik ke puncak untuk berjualan beberapa jenis makanan dan souvenir dengan harga yang bersaing J Yang berjualan pun tidak banyak, tapi dagangan mereka cukup laku, laris manis..hehe.. Dan yang membuat kami geleng-geleng kepala adalah..kapan bapak-bapak dan ibu-ibu ini naik ke puncak?? Apa mereka juga mendaki seperti kami?? Ternyata…mereka sudah terbiasa naik turun puncak sehingga tidak butuh banyak waktu untuk naik ke sini..bagi mereka jarak puncak dan desa cukup dekat. Bahkan mereka bisa 2x naik turun puncak dalam sehari  jika cuaca mendukung!! Ckckckck…bandingkan dengan kami yang butuh waktu 2 hari 2 malam untuk bisa berada di sini…hahahaha

Setelah puas bermain di Puncak Gede, kira-kira pukul 7 waktu setempat  kami turun melalui jalur Cibodas. Jalur yang terkenal curam dan terjal. Dan benar saja, kami sampai harus menggunakan tali untuk turun. Sayangnya, foto narsis saya dan Grace saat turun tak sempat kami ambil dari kamera si Taufik, salah satu peserta pendakian yang sempat cinlok ma Grace…hwkwkwkwkwk..piss Ge J
Sepanjang perjalanan turun kami melewati mata air panas yang mengandung sulfat, lumayan nih buat cuci muka, basmi kuman-kuman penyebab jerawat, hwkwkwk, tapi jangan diminum lho… 
Klo kemarin saat mendaki adalah perjalanan kering, saat turun ini adalah perjalanan basah, hehe…karena kami harus melewati beberapa mata air dan air tejun..  Dalam perjalanan pulang ini kami mengadakan operasi semut, yaitu memilih sampah yang kami temui dan mengumpulkannya di trash can kami masing 2 dan dibuang setelah keluar dari kawasan TNGP.
Sekitar pukul 10 kami tiba di tempat peristirahatan sementara, lokasi ini disebut Kandang Badak. Entahlah mengapa dinamai Kandang Badak, mungkin dulu di sini pernah hidup banyak badak, hehe.. Selama istirahat di Kandang Badak, ada yang memasak untuk makan siang, ada yang tidur-tiduran, dan ada juga yang mengisi waktu dengan bermain kartu J
Lalu ngapain saya waktu itu?? Hmm…usai memasak brsama Bonbon dan Rawon, saya tidur sebentar, bergantian dengan Grace. Grace selalu tidur brselimut jaket tebal nan hangat milik Mas Pentol. Dan …so sweetnya Grace yang tak terlupakan sampai sekarang.. Saat saya tidur disampingnya, dia menyelimuti saya dengan jaket tebal Mas Pentol..hihihi..thx Ge,romantic kali, wkwkwkwk.. ko tau lah aku susah tidur karena kedinginan. I always remember those sweet friendship memories during the summit J
Menjelang pukul 12 siang waktu setepat kami bergegas melanjutkan perjalanan turun menuju titik berikutnya yaitu air terjun Cibeureum. Kami tiba di Cibeureum sekitar pukul 14 waktu setempat dan sekalian melaksanakan solat jamak Dzuhur dan Ashar.
Cibeureum sendiri artinya air merah. Dinamai demikian karena di air terjun ini terdapat ganggang berwarna merah (rhodopiceae) yang mengakibatkan airnya terlihat kemerahan dari jauh.
Cibeureum euy!! J Tapi mana kq airnya kagak merah?? :p
Tenaga sudah terkumpul kembali, pukul 15 waktu setempat kami berangkat meninggalkan Cibeureum. Cuaca selama perjalanan pulang sedikit tidak bersahabat, sempat hujan dan seterusnya gerimis. Masih sekitar pukul 16 samapi 17 tapi suasana sudah gelap seperti sudah mau maghrib saja, karena mendung. Kami harus menyalakan headlamp dan senter selama perjalanan dan harus lebih berhati-hati tentunya karena jalur  yang semakin licin akibat gerimis.
Kami tiba di posko Cibodas (kaki gunung) saat maghrib. Sebagian beristrahat, membersihkan badan secukupnya dan melaksanakan solat maghrib berjamaah di posko. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju tempat kendaraan pulang menjemput kami. Selama menuju tempat penjemputan, kami melewati deretan kios souvenir khas TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango). Kami singgah untuk membeli beberapa souvenir. Saya dan Grace membeli lukisan kaca dan akan kami hias dg tinta timbul nanti.
Perjalanan pulang memakan waktu kurang lebih 2 jam. Memasuki kawasan Jakarta udara mulai terasa panas dan pengap. Kami tiba kembali di Kampus STAN sekitar pukul 9 malam. Setelah membereskan segala sesuatunya di Posko Stapala, kami pulang ke kosan masing-masing untuk beristirahat J
Inilah oleh-oleh yang saya bawa dari perjalanan saya ke Gunung Gede. Banyak hal yang saya dapat selama pendakian. Dapat teman baru, pengalaman baru. Pelajaran penting untuk selalu rendah hati, tentang kerja sama tim, kekompakan, dan kepedulian terhadap sesame, berat sama dipikul ringan sama dijinjing, kesederhanaan dan apa adanya adalah sifat khas pecinta alam,mereka tdk nekoneko…dan tak lupa selalu saling berbagi..
***saat kesusahan di atas gunung, mgkin banyak di antara kamu yg berikrar tobat mendaki, tapi ketika pendakian itu telah usai,kmu akan sangat merindukan suka duka pendakian itu***
Never ending adventure. Salam RimbA! See u on the next TRIP!! 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Playlist Nadin Amizah dan Memori Kota Mataram

  Pondok Karya, 24 Februari 2021           Hujan dan mendung siang ini di luar. WFH ditemani playlist Nadin Amizah entah kenapa yg terlintas...